Senin, 10 Oktober 2016

Tari Topeng Malang










Tari Topeng Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa

Tengahan, Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini

mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali. Salah satu

keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura

(yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan.

Tari Topeng sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas

semasa perang kemerdekaan. Tari Topeng adalah perlambang bagi sifat manusia, karenanya banyak

model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda, menangis, tertawa, sedih, malu dan

sebagainya. Bisanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat

setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah2 panji.

Kesenian Tari Topeng Malang merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan,

Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing). Sehingga akar gerakan tari ini

mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa, Madura dan Bali.

Sampai saat ini Tari Topeng masih bertahan dan masih memiliki sesepuh yaitu Mbah

Karimun yang tidak hanya memiliki keterampilan memainkan tari ini namun juga menciptakan

model2 topeng dan menceritakan kembali hikayat yang sudah berumur ratusan tahun. Sayang sekali

Mbah Karimun tidak memiliki penerus yang dapat menggantikan dirinya melestarikan kesenian khas

daerah Malang ini. Dengan demikian walaupun masih bertahan namun Tari Topeng sudah

mendekati kepunahan walaupun masih tetap mengikuti event2 penting kesenian tradisional tingkat

nasional.

Dengan keahliannya membuat topeng juga telah menyediakan lapangan pekerjaan bagi

puluhan perajin topeng. Dipasarkan sebagai souvenir di tempat2 wisata dan galeri2 seni dengan

harga yang cukup terjangkau. Perhatian dan dukungan yang lebih kongkret perlu diberikan oleh

Pemda dan instansi2 terkait untuk mempopulerkan kembali kesenian khas Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar